Rajawali500 – Pulau Yang Tidak Ada Di Peta

Langit masih gelap ketika Raka membuka matanya.

Hal pertama yang ia rasakan adalah sakit di kepala.

Hal kedua yang ia dengar adalah suara ombak.

Ia mencoba bergerak, tetapi seluruh tubuhnya terasa berat. Pasir basah menempel di wajah dan bajunya.

Beberapa meter di sampingnya, sebuah tas berwarna merah tergeletak di antara pecahan kayu.

Kemudian Raka teringat sesuatu.

Kapal.

Badai.

Suara orang-orang berteriak.

Dan adiknya.

“Nara!”

Raka langsung berdiri meskipun kepalanya masih berputar.

“Nara!”

Tidak ada jawaban.

Ia berlari sepanjang pantai.

Di antara potongan kayu, tali, dan beberapa barang yang terbawa arus, ia akhirnya melihat seorang anak perempuan terbaring dekat pohon kelapa.

“Nara!”

Raka berlutut.

Adiknya masih bernapas.

“Nara, bangun.”

Beberapa detik kemudian, mata Nara perlahan terbuka.

“Kak?”

Raka langsung memeluknya.

Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara.

Mereka hanya mendengar suara laut.

Raka berusia dua puluh satu tahun.

Nara baru empat belas.

Mereka seharusnya sedang melakukan perjalanan bersama keluarga menuju sebuah pulau wisata.

Namun badai besar menghantam kapal pada malam sebelumnya.

Sekarang mereka berada di sebuah tempat yang sama sekali tidak mereka kenal.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada dermaga.

Tidak ada manusia.

Hanya pantai, hutan lebat, dan laut yang membentang sampai batas pandangan.

Hari pertama mereka habiskan mencari apa pun yang masih bisa digunakan.

Mereka menemukan dua botol air.

Beberapa bungkus makanan ringan yang basah.

Sebuah korek api.

Pisau kecil.

Tali.

Dan sebuah kotak P3K.

Raka memeriksa semuanya.

“Kita harus hemat.”

Nara duduk di atas pasir.

“Menurut Kakak, mereka akan mencari kita?”

“Pasti.”

“Kapan?”

Raka diam sebentar.

“Secepatnya.”

Ia sebenarnya tidak tahu.

Namun ia tahu satu hal.

Mereka harus bertahan hidup sampai bantuan datang.

Pada sore hari, Raka membuat tempat berlindung sederhana menggunakan kayu dan daun kelapa.

Tidak bagus.

Tetapi cukup untuk melindungi mereka dari angin.

Malam pertama adalah malam terpanjang dalam hidup Nara.

Suara hutan membuatnya sulit tidur.

Ada suara ranting patah.

Suara burung.

Suara serangga.

Kadang-kadang terdengar sesuatu bergerak di antara semak-semak.

Nara mendekat kepada kakaknya.

“Kak.”

“Ya?”

“Aku takut.”

Raka menatap kegelapan.

“Aku juga.”

Nara terkejut.

“Kakak takut?”

“Takut bukan berarti kita berhenti.”

Raka menarik selimut darurat dari kotak P3K dan menutupi tubuh adiknya.

“Besok kita cari air.”

Pagi berikutnya, mereka masuk ke dalam hutan.

Air menjadi masalah terbesar.

Dua botol yang mereka temukan hampir habis.

Raka tahu bahwa mereka tidak boleh minum air laut.

Mereka berjalan mengikuti tanah yang menurun.

Setelah hampir dua jam, Nara berhenti.

“Kak, dengar.”

Raka diam.

Ada suara kecil.

Air.

Mereka mengikuti suara itu.

Di balik bebatuan, terdapat aliran air tipis yang mengalir dari celah batu.

Nara hampir langsung meminumnya.

Raka menahan.

“Tunggu.”

Ia mencoba menyaring air menggunakan kain dan merebusnya dengan wadah logam kecil yang mereka temukan dari reruntuhan.

Hari itu, mereka berhasil mendapatkan cukup air untuk bertahan.

Masalah berikutnya adalah makanan.

Pada hari ketiga, makanan yang mereka bawa habis.

Raka mencoba menangkap ikan menggunakan tali dan potongan kawat.

Tidak berhasil.

Ia mencoba mencari buah.

Beberapa kali ia menemukan buah yang tidak dikenalnya.

Ia tidak berani memakannya.

Nara mulai terlihat lemas.

Sore itu, Raka akhirnya berhasil menangkap seekor kepiting kecil di antara bebatuan.

Mereka membakarnya.

Dagingnya sedikit.

Tetapi malam itu rasanya seperti makanan terbaik yang pernah mereka makan.

Hari demi hari berlalu.

Mereka membuat rutinitas.

Pagi hari mencari air.

Siang hari mencari makanan.

Sore hari mengumpulkan kayu.

Setiap hari, Raka membuat api besar di pantai.

Ia menambahkan daun basah agar menghasilkan asap.

“Biar kapal bisa melihat kita.”

Nara kemudian membuat tulisan besar di pasir.

SOS.

Hari kelima.

Tidak ada kapal.

Hari ketujuh.

Tidak ada pesawat.

Hari kesembilan.

Tidak ada siapa-siapa.

Nara mulai kehilangan harapan.

Suatu sore ia duduk sendiri di pantai.

“Kak.”

“Hmm?”

“Kalau mereka tidak menemukan kita?”

Raka tidak langsung menjawab.

“Kita tetap hidup.”

“Sampai kapan?”

“Sampai mereka menemukan kita.”

Nara memandang laut.

“Tapi bagaimana kalau tidak?”

Raka duduk di sampingnya.

“Kalau begitu kita yang menemukan jalan pulang.”

Hari kesebelas, hujan turun sangat deras.

Tempat berlindung mereka hampir roboh.

Mereka menghabiskan malam sambil menahan tiang-tiang kayu agar tidak jatuh.

Pagi harinya, Raka mengalami demam.

Sebuah luka kecil di kakinya terlihat membengkak.

Nara panik.

Biasanya Raka yang selalu melakukan semuanya.

Sekarang kakaknya bahkan kesulitan berdiri.

“Kak, jangan tidur terus.”

“Aku cuma istirahat.”

Nara mengambil kotak P3K.

Ia membersihkan luka Raka seperti yang pernah diajarkan kakaknya beberapa hari sebelumnya.

Ia mengganti perban.

Kemudian ia mengambil botol dan pergi mencari air sendiri.

Raka mencoba bangun.

“Nara, jangan pergi jauh.”

“Aku tahu jalannya.”

Untuk pertama kalinya sejak mereka terdampar, Nara masuk ke hutan sendirian.

Ia takut.

Sangat takut.

Tetapi ia tetap berjalan.

Ia menemukan sumber air.

Mengisi botol.

Kemudian kembali.

Sore harinya, ia mencoba memasang perangkap kepiting.

Ia gagal dua kali.

Percobaan ketiga berhasil.

Saat kembali ke tempat berlindung, Raka tersenyum lemah.

“Kamu sekarang lebih pintar dari Kakak.”

Nara tersenyum.

“Berarti besok Kakak boleh pensiun.”

Tiga hari kemudian, demam Raka turun.

Namun mereka mulai menyadari bahwa keadaan tidak bisa terus seperti itu.

Mereka sudah berada di pulau hampir dua minggu.

Tubuh mereka semakin kurus.

Mereka harus melakukan sesuatu.

Raka memutuskan naik ke bagian tertinggi pulau.

Mungkin dari sana mereka bisa melihat kapal.

Perjalanan itu sulit.

Mereka memanjat bukit yang dipenuhi batu dan akar pohon.

Setelah hampir tiga jam, mereka sampai di puncak.

Dari sana, mereka bisa melihat seluruh pulau.

Pulau itu jauh lebih kecil dari yang mereka bayangkan.

Namun yang menarik perhatian Raka adalah sesuatu di sisi lain.

Pantai kecil.

Dan di dekatnya terdapat benda panjang berwarna putih.

“Apaan itu?” tanya Nara.

Raka memicingkan mata.

“Sepertinya… perahu.”

Mereka segera turun.

Benda itu ternyata sebuah perahu nelayan kecil yang rusak.

Mesinnya tidak ada.

Sebagian sisinya retak.

Tetapi masih bisa mengapung.

Raka memeriksanya.

“Kita bisa memperbaiki ini.”

Nara menatap laut.

“Mau pergi pakai itu?”

“Belum.”

Raka tahu pergi ke laut tanpa mengetahui arah jauh lebih berbahaya.

Mereka memperbaiki perahu hanya sebagai pilihan terakhir.

Hari kedelapan belas.

Sebuah suara terdengar dari kejauhan.

Nara sedang mengambil kayu ketika ia berhenti.

“Kak!”

Raka berlari keluar.

“Apa?”

“Dengar!”

Suara mesin.

Sangat jauh.

Mereka melihat ke langit.

Sebuah pesawat kecil.

Raka langsung berlari menuju api.

Ia memasukkan daun basah sebanyak mungkin.

Asap hitam membumbung tinggi.

Nara mengambil kain merah dari tas mereka dan melambaikannya.

Pesawat itu terus bergerak.

“Kak! Dia lewat!”

“Terus lambaikan!”

Pesawat semakin jauh.

Nara mulai menangis.

Kemudian pesawat itu berbelok.

Raka berhenti.

Pesawat berputar.

Sekali.

Dua kali.

Kemudian terbang lebih rendah.

“Mereka lihat kita.”

Nara menatap kakaknya.

“Mereka lihat kita!”

Untuk pertama kalinya setelah delapan belas hari, Raka menangis.

Beberapa jam kemudian, sebuah kapal penyelamat tiba.

Saat petugas mendekat, Nara berlari lebih dulu.

Raka berdiri beberapa meter di belakangnya.

Ia melihat tempat berlindung mereka.

Api.

Tulisan SOS.

Botol-botol air.

Perangkap kepiting.

Semua benda sederhana yang selama hampir tiga minggu menjadi dunia mereka.

Dalam perjalanan pulang, seorang petugas bertanya kepada Raka,

“Bagaimana kalian bisa bertahan selama itu?”

Raka melihat Nara yang tertidur di sampingnya.

Ia tersenyum.

“Saya menjaga dia.”

Beberapa detik kemudian ia menambahkan,

“Dan ketika saya tidak kuat, dia yang menjaga saya.”

Bertahun-tahun kemudian, Nara masih menyimpan sebuah benda dari pulau itu.

Sebuah pisau kecil berkarat yang mereka gunakan hampir setiap hari.

Bukan karena benda itu berharga.

Tetapi karena setiap kali melihatnya, ia teringat sesuatu.

Di pulau terpencil itu, mereka memang belajar membuat api.

Mencari air.

Menangkap makanan.

Dan bertahan hidup.

Tetapi pelajaran terbesar yang mereka bawa pulang bukan tentang alam.

Mereka belajar bahwa seseorang bisa merasa sangat lemah ketika sendirian.

Namun ketika ada seseorang yang harus dijaga, manusia sering menemukan kekuatan yang sebelumnya tidak pernah ia tahu ia miliki.

1 thought on “Rajawali500 – Pulau Yang Tidak Ada Di Peta”

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top